Dampak Strict Parents Pada Remaja
Strict parents adalah orang tua yang menerapkan aturan sangat ketat, disiplin tinggi, dan cenderung membatasi kebebasan anak dalam mengambil keputusan. Pola asuh seperti ini umumnya minim dialog terbuka dan kurang memberi ruang bagi anak untuk berekspresi. Akibatnya, pola asuh ini bisa berdampak buruk pada perkembangan mental, emosional, hingga hubungan anak dengan orang tua.
Setiap orang tua tentu ingin anaknya menjadi pribadi yang baik, disiplin, dan sukses di masa depan. Karena alasan itu, ada orang tua yang bersikap strict atau terlalu ketat dalam mengatur anaknya. Mereka sering menetapkan banyak aturan, seperti melarang anak pergi bersama teman, membatasi waktu bermain, atau selalu ingin tahu apa pun yang dilakukan anak. Walau tujuannya baik, sikap terlalu ketat ini bisa memberi dampak besar bagi remaja, baik positif maupun negatif.
Di sisi positif, orang tua yang strict biasanya membuat anak jadi lebih disiplin dan berhati-hati dalam bertindak. Anak terbiasa mematuhi aturan dan berpikir sebelum melakukan sesuatu. Hal ini bisa membantu remaja terhindar dari pergaulan bebas, malas belajar, atau kebiasaan buruk lainnya.
Namun, di sisi lain, terlalu banyak aturan juga bisa membuat remaja merasa terkekang. Mereka jadi takut untuk berpendapat atau mengambil keputusan sendiri karena khawatir dimarahi. Akibatnya, anak bisa kehilangan rasa percaya diri dan sulit bersosialisasi. Tidak jarang juga, remaja dengan orang tua yang terlalu ketat justru menjadi pemberontak diam-diam, melakukan hal-hal yang dilarang tanpa sepengetahuan orang tua.
Hubungan antara orang tua dan anak juga bisa menjadi kurang harmonis. Anak merasa tidak dipercaya, sementara orang tua merasa anak tidak patuh. Padahal, komunikasi dan saling pengertian sangat penting di masa remaja, karena masa ini adalah waktu anak mulai mencari jati diri.
Jurnal ilmiah berjudul The power of authoritative parenting: A cross-national study of effects of exposure to different parenting styles on life satisfaction yang dipublikasikan di Children and Youth Services Review, memuat hasil penelitian terhadap remaja usia 14 – 29 tahun di 10 negara di Eropa Tenggara.
Penelitian tersebut mensurvei bagaimana kehidupan masa kanak-kanak yang diasuh oleh strict parents, berdampak pada kualitas kehidupan remaja di masa depan.
Menurut hasil studi di atas, anak remaja yang mendapatkan pola pengasuhan “keras” merasa kurang lebih bahagia dan hidup penuh dengan tekanan.
Kesimpulannya, sikap strict parents memang memiliki niat baik, tetapi jika terlalu berlebihan bisa menimbulkan dampak negatif bagi remaja. Oleh karena itu, yang paling baik adalah keseimbangan — orang tua tetap memberikan aturan, tetapi juga memberi ruang bagi anak untuk belajar bertanggung jawab dan mengambil keputusan sendiri.
SETUJUU
ReplyDelete